Di banyak tempat di Kecamatan Batu Ampar, aliran air bersih mati selama lebih dari setahun. Baru dua pekan terakhir lancar mengalirnya. Sebelumnya, warga mesti menunggu truk air hingga subuh, itu pun tidak selalu dapat. Persoalan serupa juga dirasakan warga di sejumlah wilayah lain, termasuk Bengkong dan Kecamatan Nongsa. Padahal, air adalah kebutuhan pokok. Orang tidak bisa menunda mandi, memasak, dan memenuhi kebutuhan dasar keluarga yang sebagian besar perlu air bersih.
Ketika hujan turun meski cuma sekejap, banjir jadi ancaman di sejumlah titik Kota Batam. Sebaliknya, tatkala cuaca panas, debu dan pasir dari aktivitas truk serta kendaraan proyek beterbangan, menyelimuti jalanan dan mengganggu pernapasan.
Belum usai dengan persoalan di atas, warga juga harus menghadapi kabut asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan. Udara terasa sesak. Anak-anak terpaksa diliburkan dari sekolah.
Puncaknya terjadi pada Senin (12/10/2026) kemarin. Sejak pukul 06.30 WIB, aliran listrik padam total di seluruh kota Batam bahkan terdampak hingga Tanjungpinang dan Bintan. Akses internet ikut tersendat, sinyal telepon seluler hilang, dan banyak aktivitas masyarakat seketika lumpuh.
Persoalan air yang sebelumnya hanya dirasakan di titik-titik tertentu, kemudian dirasakan oleh seluruh kota akibat listik padam. Satu persoalan memicu persoalan lainnya, seperti efek domino.
Sepanjang hari, Batam seolah macam kiamat kecil. Lampu lalu lintas mati. Kemacetan mengular di sejumlah ruas jalan yang ramai. Banyak SPBU tutup. Sejumlah perusahaan tak bisa beroperasi, para pekerja terpaksa dipulangkan.
Bagi warga yang tidak memiliki uang tunai, situasinya menjadi lebih sulit. Sebagian besar toko retail, warung, dan tempat perbelanjaan lainnya tidak dapat melayani pembayaran menggunakan kartu debit dan metode nontunai lainnya. Transaksi harus dilakukan dengan uang tunai.
Masalahnya, ATM juga tak bisa diandalkan. Dimana mana, mesin ATM mati. Mau membeli kebutuhan sehari-hari, sulit. Mau mengisi bahan bakar, belum tentu bisa. Mau menghubungi keluarga, terkendala jaringan. Hendak mencari informasi, akses internet bermasalah. Semua serba sulit. Semua serba terbatas.
Malam tiba. Kota gelap gulita. Udara panas membuat keadaan semakin tak nyaman. Tanpa listrik, kipas angin dan AC tak berfungsi. Mencari hotel – pada penuh dan kalau pun ada, harganya sudah tak masuk akal. Barulah menjelang tengah malam, listrik kembali menyala. Satu hari penuh yang menguras tenaga, waktu, serta menguji kewarasan.
Dalam situasi demikian itu, ketika aktivitas ekonomi terganggu, komunikasi tersendat, transportasi tersendat, dan kebutuhan dasar ikut terdampak, orang mungkin membayangkan akan terjadi gelombang protes besar-besaran. Bukan tidak mungkin muncul kemarahan kolektif.
Namun, warga Batam tetap menjalani hari-hari mereka dengan kesabaran yang luar biasa. Barangkali kesabaran mereka seluas Samudra Hindia. Atau mungkin, warga Batam memang telah menguasai ilmu kesabaran tingkat tinggi, sehingga persoalan yang bagi orang lain terasa luar biasa, bagi mereka cukup dihadapi dengan tenang tenang saja, menunggu, dan berharap.
Agaknya, bukan warga Batam saja yang memiliki kesabaran istimewa semacam ini. Di berbagai penjuru Indonesia, masyarakat juga menunjukkan kesabaran yang nyaris tak terbatas.
Bencana datang silih berganti, masyarakat tetap bersabar. Kebakaran hutan dan lahan berulang, masyarakat tetap bersabar. Lingkungan rusak, masyarakat tetap bersabar. Pelayanan publik belum berjalan baik, masyarakat tetap bersabar. Penegakan hukum masih jauh panggang dari api, masyarakat tetap bersabar. Bahkan ketika kasus korupsi terus bermunculan menyeret pejabat hingga aparat penegak hukum, masyarakat kita tetap menunjukkan kesabaran luar biasa.
Sungguh, kita memang bangsa yang hebat. Rakyatnya amat terlatih menghadapi berbagai persoalan. Kesabaran telah menjadi semacam identitas nasional yang tak ternilai harganya.






























Discussion about this post