Oleh: Ifanko Putra
Ada sebuah adagium Minangkabau yang bunyinya,
“Nan ditembak lantai, nan kanai hiduang.”
Kira-kira kalau diterjemahkan artinya:
“Yang ditembak lantai, yang kena hidung.”
Ketika kecil saat bermain teka-teki, kami sering menggunakan kalimat tersebut.
Tahukah pembaca artinya?
Bila pembaca belum pernah mendengar atau pernah mendengar namun belum tau maknanya maka saya terangkan di bawah ini.
Jika pertanyaannya berupa teka teki yang diutarakan sembari berseloroh, jawaban adalah, maaf.. kentut.
Ini biasanya dipahami oleh level anak-anak. Namun oleh orang dewasa, artinya bisa lebih luas.
Yang ditembak lantai, yang kena hidung
bisa bermakna, suatu perkataan yang ditujukan ke satu orang yang akhirnya menyasar ke banyak pihak. Atau bisa juga tembakan salah sasaran. Tak sesuai dengan rencana atau yang dimaksud.
Salah satu contoh penggunaan adagium ini, misalnya dipesankan kepada ipar besan atau anak dan menantu dan lain-lain untuk berhati-hati dalam berkomunikasi, terlebih yang rumahnya saling berdekatan. “Elok-elok mangecek, jan sampai ditembak lantai nanti kanai hiduang.” (Hati-hati bicara, jangan sampai yang ditembak lantai yang kena hidung)
Sebab salah-salah bisa jadi persoalan.
Misalnya yang dimarahi kucing dalam rumah, disangka orang yang mendengar, itu sindiran yang dialamatkan kepadanya. Sehingga berakhir dengan hal yang kurang baik. Begitulah lebih kurang.
Korelasinya dengan kondisi saat ini
Adagium tersebut sebenarnya ada korelasinya dengan kondisi kita sekarang ini.
Di tengah keberadaan media sosial (medsos) yang hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita kini, orang-orang dapat mengungkapkan apa saja yang dirasakannya lewat medsos tersebut. Sadar atau tidak yang kita utarakan lewat platform di jagat maya itu dilihat dan dibaca oleh tiap-tiap orang yang menjalin pertemanan dengan kita.
Jika yang kita tulis misalnya bernada miring atau menyangkut orang lain, tanpa kita sadari tak sedikit orang yang kita kenal tersinggung dengan postingan kita. Bukan tidak mungkin ada yang merasa, yang kita tulis ditujukan kepadanya. Padahal bukan itu maksud kita.
Lambat laun, kadang kawan berkurang satu-satu, hubungan pertemanan, sahabat, atau saudara pun bisa jadi renggang dan saling menaruh prasangka. Terlebih jika jarang bertemu dan kurang bersilaturahmi.
Maka dari itu, sebelum menulis sesuatu di medsos harus ditimbang masak-masak. Agar tidak menimbulkan multitafsir bagi yang lain.
Bagaimana pula dengan pengguna medsos lainnya sebagai pembaca.
Sebagai pengguna medsos tentu saja tak boleh gampang terbawa perasaan (baper). Sebab kita dan orang lain sama-sama memiliki pikiran, memiliki perasaan, dan pikiran itu boleh jadi dituangkan lewat medsos.
Berpikir positif saja, selama belum dialamatkan langsung kepada kita berarti bukan kita yang dimaksud. Abaikan saja dan jangan diambil hati.
Hubungan baik dengan sesama, sangat-sangat mahal harganya.





























Discussion about this post